SGMPB 12503750

14 September 2012
Gudang Tua Pelabuhan Nusantara Pekalongan
16.30 WIB


Satu langkah lagi Bandi maju hingga jarak di antara mereka kurang dari lima meter.
”Ha...ha...ha...!” tawa nyaring membahana di ruang berdinding tembok tebal itu. “Aku tahu kamu masih menyayangi nyawa adikmu, anak muda! Sekarang, serahkan datanya!” perintah pria berkepala pelontos itu.
“Serahkan dulu Sari, Mr Irul! Kalau terjadi apa-apa dengannya, aku pastikan Mr juga tak akan mendapatkan apa-apa!” balas Bandi seraya mendengus marah.
”Tenang... adikmumu aman bersamaku,” ujar Mr. Irul sebelum memutar kursi yang berada tepat di belakngnya. Di kursi itulah Sari duduk terikat dengan lakban hitam merekat di mulutnya. ”Kecuali bila tak segera kau serahkan datanya. Maka...” diambilnya sebuah jarum suntik dengan tabung penuh berisi cairan hijau dari sakunya. Dilepaskan penutup jarum lalu ditempelkannya ujung jarum itu di pergelangan tangan Sari yang tampak meronta-ronta. ”Dalam lima detik seluruh isinya akan berpindah ke dalam otak adikmu. Bagaimana?” sepasang bibir itu mengurai senyum kemenangan.
”Ilmuwan keparat, kau Mr!” maki Bandi
“Keparat? Siapa? Siapa yang keparat?!” sergah Mr Irul. ”Perhimpunan ilmuwan negeri ini yang keparat! Kuhabiskan umurku di laboratorium untuk menyelesaikan riset formula pemacu kecerdasan otak ini agar tak ada lagi siswa yang tak lulus ujian nasional. Tapi apa yang mereka lakukan? Hanya karena kesalahan kecil, mereka menghentikan bantuan dana riset, menyita peralatanku, dan menutup laboratoriumku!” Mr Irul menatap Bandi tajam. Kobaran amarah menyala di matanya.
”Kesalahan kecil? Tikus yang Mr gunakan sebagai percobaan berubah menjadi predator dan memangsa kucing. Itu merubah mata rantai makanan dan mengacaukan sistem alami. Itu Mr sebut kesalahan kecil, hah?” sahut Bandi tak kalah sengit.
”Omong kosong! Aku masih mampu menyempurnakan formulanya. Sedikit lagi pekerjaan besar itu akan selesai. Sekarang, berikan datanya sebelum kesabaranku habis. Dan biarkan aku menyelesaikan penemuan terbesar abad ini dengan emas yang kau temukan teknologi pelacaknya itu!”
Bandi menghela nafas panjang. Sesaat matanya menjelajahi ruangan itu dan mendapati sosok-sosok tubuh kekar bersenjata otomatis AK-49i buatan Rusia bertebaran di setiap sudut dan di belakang Mr Irul. Dari bawah sol sepatunya, dengan memijit tombol tersembunyi, dikeluarkannya sebuah mini CD dan langsung dilemparkannya ke arah Mr Irul.
Dengan sigap, Mr Irul menangkap CD mungil itu. Ia mengamatinya sejenak kemudian menyerahkannya kepada seorang anak buahnya yang duduk di depan laptop mutakhir, satu langkah di samping kanannya. ”Periksa CD ini!”
”Oke, Bos!” jawab anak buahnya yang dengan cekatan segera melakukan tugasnya. Setelah memasukkan CD, tangannya menekan beberapa tombol keyboard. Lalu... ”Bersih, Bos! Orisinil, tanpa virus, tanpa penyadap, dan belum pernah di-copy. Kita hanya perlu passwordnya!”
Mr Irul tersenyum puas. ”Hmmm... bagus. Kamu tipe taat perintah rupanya. Berikan passwordnya!”
”Lepaskan Sari lebih dulu!” tuntut Bandi, ”Dan Mr akan dapatkan yang Mr inginkan.”
Tangan kanan Mr Irul terangkat, memberi perintah. Dua orang anak buahnya bergegas mendekat, lalu membuka ikatan Sari dan menarik lepas lakban hitam. Sari segera menghambur ke pelukan Bandi.
”Giliranmu, anak muda. Jangan coba-coba menipuku. Kalian berdua takkan bisa meninggalkan ruangan ini hidup-hidup!” tegas Mr Irul.
Bandi mematung sejenak sebelum akhirnya membuka mulut, ”SGMPB 12503750.”
Lelaki muda berkaca mata bening di depan laptop menekan tombol huruf dan angka-angka itu. Di layar monitor, tampil halaman Google Earth yang segera memberikan citra gambar 3 dimensi Propinsi Jawa Tengah. Tampak bulatan merah berkedip-kedip dari lokasi Pekalongan disusul dengan titik-titik kuning emas yang bermunculan hampir serentak memenuhi peta Jawa Tengah itu.
Mata Mr Irul tak berkedip menyaksikannya. Mulutnya menyeringai lebar. ”Ha...ha...ha...! Emas! Emas! Ha...ha...ha...! Akan kusempurnakan formulanya! Setelah itu itu, namaku akan tercatat dengan tinta emas dalam sejarah sebagai ilmuwan terbesar sepanjang masa. Ha...ha...ha...!”


&&&&&


14 September 2012
Hall C Terminal Induk Transito Paninggaran
17.15 WIB


Bandi melepas helmnya dan beranjak turun dari motor minijetnya. Sesaat dia menyapukan pandangan ke seantero Paninggaran yang tampak jelas dari lantai tertinggi Terminal Induk Transito Paninggaran yang baru saja diresmikan oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan itu. Dan baru Bandi sadari, Sari sedang menatapnya.
”Ada apa, Sar?” tanya Bandi. Ujung jilbab Sari melambai tertiup semilir angin sore.
”Kenapa Kakak berikan data itu? Teknologi pelacak emas yang baru saja Kakak temukan akan memudahkan ilmuwan gila itu mewujudkan ambisinya. Emas-emas itu pasti akan digunakannya untuk membeli peralatan baru dan membangun kembali laboratoriumnya. Dunia terancam bahaya besar, Kak.” Sari mendesah lirih. Resah.
Bandi tersenyum tipis. Dibalasnya tatapan adik semata wayangnya itu. ”Nyawamu lebih berharga, Sar. Selain itu, aku nggak sebodoh yang mereka kira.”
”Maksud Kakak, software pelacak emas dalam CD itu palsu?” tanya Sari dengan alis terangkat.
”Enggak. CD beserta isinya itu asli, sesuai permintaan Mr Irul. Aku kenal dia. Dia pasti telah memperhitungkan kemungkinan terburuk. Tapi aku telah melengkapi software itu dengan Automatic Selfdestroy System.
”Sistem Penghancur Diri Otomatis? Tapi bagaimana mungkin komputer canggih Mr Irul tak bisa mendeteksinya?”
”Aku telah memperhitungkannya,” jawab Bandi tenang, ”Titik-titik kuning penanda lokasi emas yang tadi nampak di layar hanya beberapa buah yang asli. Lainnya, palsu.”
”Palsu?”
”Ya. Ingat waktu kita makan buah nangka dari kebun belakang peninggalan Ayah dua minggu lalu?” Bandi balik bertanya, dan langsung menyambung ucapannya setelah melihat Sari mengangguk kecil, ”Secara tak sengaja, aku menemukan bahwa getah nangka tua dari hasil bumi Paninggaran ternyata mengandung zat pelapis yang mampu memantulkan 85% gelombang elektromagnetik. Saat sistem pengaman di software itu dibuka dengan password SGMPB 12503750, program pelacak akan langsung bekerja. Sinyal pelacak lokasi emas itu akan terkirim ke satelit relay NIR 51164 punyaku dan akan dituntun ke lokasi yang sesugguhnya. Sinyal itu juga akan singgah di pohon nangka depan rumah kita, karena di salah satu buahnya telah kutanam supermikroprosesor yang selain bertugas menangkap sinyal juga berfungsi memperbesar kemampuan pantulan zat pelapis hingga 100%. Dengan bantuan supermikroprosesor generasi III itu, sinyal akan dikloning secara massal dan akan dikembalikan ke komputer melalui satelit relay bersama dengan sinyal pantulan yang asli. Itu telah kuuji beberapa kali. Dan hasilnya, persis seperti yang kita lihat tadi.” papar Bandi.
”Lalu bagaimana sistem penghancur diri otomatis itu bekerja?” tanya Sari lagi.
”Itu mudah. Password SGMPB memang membuka akses terhadap software itu. Tetapi, pada saat yang bersamaan, password 12503750 akan mengakifkan Automatic Selfdestroy System. Dalam waktu 14,9 detik, sistem tersebut akan menghubungkan komputer mereka dengan komputer induk pada Identification Area Network atau IAN milik Kantor Pusat Kependudukan dan Catatan Sipil untuk melaporkan pengguguran identitas komputer dan seluruh benda hidup beridentitas lainnya dalam radius 10 m dari sistem itu bekerja.”
Bandi menghentikan penjelasannya. Di depannya, Sari terlihat serius mendengarkannya.
”Itu berarti,” lanjut Bandi, ”Identitas komputer mereka beserta seluruh mahluk hidup dalam radius itu akan dihapus dari IAN. Dan akan berstatus tak pernah ada. Proses itu akan selesai dalam 58 detik, bersamaan dengan musnahnya seluruh data dalam komputer mereka. Tatkala mereka menyadarinya, itu sudah sangat terlambat karena pada detik ke-59, Mr Irul dan seluruh anak buahnya akan terisolasi dari semua sistem informasi global. Ini karena komputer IAN terkoneksi online dengan database kependudukan internasional di kantor pusat PBB yang meng-update data tiap 30 detik. Setiap upaya akses mereka ke segenap layanan publik akan ditolak. Kalaupun mereka nekad menerobos kode pengaman komputer IAN yang berlapis-lapis, mereka akan berurusan dengan Badan Antariksa Nasional yang akan mengklasifikasi dan mengenali mereka sebagai benda asing tak beridentitas alias alien. Atau, paling tidak, mereka akan berhadapan dengan dinas intelijen dan keamanan nasional karena dianggap sebagai mata-mata negara asing. Cukup adil untuk orang-orang serakah seperti mereka, bukan?”
Sari terpana. Ia seakan masih terpana ketika Bandi telah duduk kembali di atas motornya dan segera menyalakannya.
”Eh, ayo! Mau pulang, nggak?” ajak Bandi seraya mempermainkan gas motor minijet berkecepatan maksimum 510 km/jam itu. ”Jangan kuatir, data orisinal software itu tersimpan aman di kepalaku.”
”Nanti dulu. Password software itu kok kayaknya agak aneh. Nggak seperti biasanya,” sahut Sari penasaran.
“Aneh? Ah, nggak juga,” sergah Bandi. ”SGMPB. SeGo Megono Plus Bakwan. 12503750. Berapa harga sebiji bakwan? Rp 250, ’kan? Kalau tiga biji?” tanya Bandi sembari mengangkat alis.
Mata Sari berbinar. ”Wah, semudah itu? Kalau Mr Irul bisa memcahkan password itu, berarti mereka bisa mendapatkan kembali identitasnya, dong!”
”Bisa. Tapi persoalannya, mampu nggak mereka melakukannya?” kembali Bandi memutar-mutar stang gas motornya.
”Tahu, ah! Emang gue pikirin!” jawab Sari singkat. ”Yuk, pulang!” Sari langsung nangkring di belakang Bandi. Detik berikutnya, motor minijet itu melesat ke angkasa timur Paninggaran, meninggalkan kepulan asap tipis di Hall C Terminal Induk Transito Paninggaran.


&&&&&&&&&&


Dikirimkan ke Tabloid Remaja Tren Semarang (Suara Merdeka Grup) pada 22 Februari 2003; dimuat di tabloid tersebut pada edisi 71/2/20-25 Mei 2004.
Ditulis kembali dengan judul yang sama dengan editing setting lokasi, waktu, dan beberapa dialognya.

Artikel Terkait



  • Digg
  • Delicious
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • 0 komentar:

    Poskan Komentar

    Terima kasih atas komentar Anda. Silahkan kunjungi blog saya secara berkala

    Next previous home