SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU, SAUDARAKU...

1 Oktober 2010, melalui media sosial Facebook, saya bingkiskan sebuah catatan sebagai hadiah ulang tahun sohib karib saya, Nurul Ibadi, berjudul KADO UNTUK ULTAH SAHABATKU: NURUL IBADI. Tulisan yang kutip utuh dari percikaniman.org tersebut mengusung tema pernikahan. Tulisan yang sengaja saya berikan kala diskusi-diskusi panjang kami mulai merambah tema menarik sekaligus menyimpan banyak misteri: pernikahan.

Setahun kemudian, 1 Oktober 2011, kembali pada momen ulang tahunnya, saya tulis kembali catatan yang sama dengan judul berbeda: MENIKAH ADALAH IBADAH TERINDAH, SAUDARAKU...

Setahun umur catatan tersebut, diskusi demi diskusi mengalir. Intensitasnya tak terhitung lagi. Dari judulnya, catatan pada tahun 2011 jelas menyiratkan dua hal: pertama, saya ingin meyakinkan Nurul Ibadi, sebagaimana penutup catatan tersebut: "Percayalah kepada Yang Maha Menepati Janji................"; kedua, sebagai sebuah ibadah, pernikahan mesti dipersiapkan.

Ya, dari beberapa rekan muda yang sering mangkal di tempat saya, terkadang sampai larut malam, diskusi tentang pernikahan kerapkali menjadi diskusi yang paling menarik sekaligus paling tak berujung. Tak sekali dua kali luapan semangat untuk menunaikan sunah Rasul itu membentur dinding kukuh berlabel tradisi. Pendeknya: berat di ongkos!

Saya bisa merasakan dilema itu. Kepungan aneka media yang menyuguhkan sajian erotis tanpa batas, termasuk siaran langsung yang bisa dinikmati gratis berwujud tubuh-tubuh molek dengan balutan busana minim di wilayah saya, kawasan pegunungan Selatan Kabupaten Pekalongan, memberi andil yang tidak kecil dalam mendidihkan derajat birahi dalam hitungan detik. Sementara saat mereka telah memiliki niat untuk menikah, kendala klasik telah menghadang.

Saya tak bermaksud menyederhanakan, apalagi menyepelekan, urusan sepenting pernikahan. Tetapi, jujur saja, tradisi yang telah mendarah daging tentang pernikahan yang serba wah, menurut saya, telah menjadi penghalang bagi niat-niat mulia.

Maka, tatkala Nurul Ibadi terlihat semakin antusias untuk menikah, tentu saja, saya tak mau mundur dalam memperjuangkan "konsep" sederhana tentang pernikahan. Konsep yang saya maksud adalah turuti kata hati dan jangan turuti kata tetangga.

Mulailah babak baru itu. Diawali dengan merancang Rencana Anggaran Biaya (RAB) di pertengahan 2010, Nurul Ibadi pun mengibarkan bendera start.

Mulus? Seperti sinetron, penuh liku. Tak sekali Nurul Ibadi terlihat goyah. Pekerjaannya sebagai Guru Tidak Tetap (GTT) berhonor kecil terkadang menjadi batu sandungan. "Bisakah aku? Mampukah aku?" demikian kurang lebih galaunya.

Dan tak jemu juga saya membuka kitab perjalanan hidup saya. Sekali lagi, saya merasakan hikmah yang teramat besar yang Allah SWT berikan melalui berlikunya jalan hidup saya: berbagi dengan orang lain. Dan pernah merasakan apa yang sedang dirasakan orang lain membuat segalanya lebih indah.

Kembali saya katakan apa yang juga pernah saya katakan kepada beberapa orang yang sedang mengalami hal yang sama: "25 Februari 2004, kala saya menikah, pekerjaan GTT bukanlah pekerjaan populer. Jumlah penduduk asli kelahiran Paninggaran yang berminat menjadi guru pengabdian masih bisa dihitung dengan jari. Pagi dan malam menjadi pekerja, siang menjadi guru swasta, dan sore menjadi mahasiswa, kemudian menikah setelah melalui perjalanan yang teramat panjang dan berliku, siapa lagi yang mempermudah semuanya kalau bukan Sang Maha Pemberi Rizki?"

Ya, tak hendak menulis biodata. Juga tak bermaksud menggurui siapapun. Saya hanya hendak menyampaikan betapa Allah Maha Kaya. Dan IA tepati janji-Nya untuk memberi rizki dan jalan keluar dari arah yang tak terduga.

Dan.....subhanallah. Pagi tadi, kala menyaksikan langsung akad nikah Nurul Ibadi, saya serasa menonton pertunjukan megakonser. Sebuah pagelaran ke-Maha Agung-an Sang Penguasa Langit dan Bumi.

Kala semua usaha telah dilakukan. Kala semua ihtiar telah ditempuh. Kala hati telah dipasrahkan kepada pemilik-Nya. Bukankah kepada Sang Maha Menentukan kita serahkan jiwa raga ini, karena memang hanya DIA-lah yang memiliki hak prerogatip untuk itu?

Dan IA tepati janji: sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Al-Insyirah ayat 5 dan 6).

Selamat menempuh hidup baru, Saudaraku...

Hari ini kau tapaki lembar baru. Hari ini kau buka sejarah baru. Hari ini kau tunaikan sunah Rasulullah, seperti tekadmu beberapa tahun lalu.

Semoga dipermudah membangun jembatan mardatillah untuk merengkuh keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Amin.


Teriring doa bahagia
Sahabat dan saudaramu

Artikel Terkait



  • Digg
  • Delicious
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • 0 komentar:

    Poskan Komentar

    Terima kasih atas komentar Anda. Silahkan kunjungi blog saya secara berkala

    Next previous home