DOWNLOAD GRATIS CONTOH SOAL TES KEMAMPUAN DASAR (TKD) SD

TKD atau Tes Kemampuan Dasar, merupakan ujian bagi siswa kelas III Sekolah Dasar. Materi yang diujikan adalah Membaca, Menulis dan Berhitung. Sebagaimana yang diajarkan pada kelas kecil, prioritas dalam pencapaian target adalah kemampuan calistung yang merupakan bekal untuk melanjutkan di kelas besar (kelas IV, V, dan VI).
Di sini siswa di uji kemampuan membaca, menulis dan berhitung.



A. Membaca
Pada era globalisasi seperti sekarang ini telah terjadi kemajuan yang sangat pesat pada bidang teknologi informasi. Kemajuan itu menuntut dukungan budaya baca tulis, yaitu perwujudan perilaku yang mencakup kemampuan, kebiasaan, kegemaran, dan kebutuhan baca tulis.
Namun hingga saat ini budaya baca tulis belum sepenuhnya berkembang di masyarakat Indonesia. Karena itu jika bangsa Indonesia ingin berhasil dalam pembangunan di masa depan, pengembangan budaya baca tulis mutlak diperlukan.
Yang menjadi persoalan sekarang adalah, kapan kemampuan membaca dan menulis mulai diajarkan? Jawaban pertanyaan itu sebenarnya masih berupa polemik. Bagaimana tidak? Sebagian ahli mengatakan membaca dan menulis baru dapat diajarkan setelah anak masuk SD sebagaimana kebijakan kurikulum TK sekarang ini. Tetapi banyak juga ahli yang mengatakan bahwa membaca dan menulis harus diajarkan sejak dini.
Durkin (dalam Nurbiana Dhieni, 2005 : 5.2) telah mengadakan penelitian tentang pengaruh membaca dini pada anak-anak. Dia menyimpulkan bahwa tidak ada efek negatif pada anak-anak yang diajar membaca dini. Steinberg (dalam Nurbiana Dhieni, 2005 : 5.2) juga mengemukakan bahwa anak-anak yang mendapatkan pelajaran membaca dini umumnya lebih maju di sekolah. Hal tersebut masih diperkuat oleh pendapat Moleong (dalam Nurbiana Dhieni, 2005 : 5.3) yang mengatakan salah satu aspek yang harus dikembangkan pada anak TK adalah kemampuan membaca dan menulis.
Jadi pengembangan kemampuan membaca dan menulis di TK dapat dilaksanakan selama masih dalam batas-batas aturan praskolastik dan sesuai dengan karakteristik anak, yakni belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar.
Untuk mengajarkan kemampuan membaca pada anak TK, guru perlu mengetahui tahapan perkembangan kemampuan membaca pada anak. Menurut Cochrane Efal (dalam Nurbiana Dhieni, 2005 : 5.9), perkembangan dasar kemampuan membaca pada anak usia 4-6 tahun berlangsung dalam lima tahap yakni:
1. Tahap Fantasi (Magical Stage)
Pada tahap ini anak mulai belajar menggunakan buku. Anak mulai berpikir bahwa buku itu penting dengan cara membolak-balik buku.
2. Tahap Pembetukan Konsep Diri (Self Concept Stage)
Anak memandang dirinya sebagai pembaca dan mulai melibatkan dirinya dalam kegiatan membaca, pura-pura membaca buku.
3. Tahap Membaca Gambar (Bridging Reading Stage)
Anak menyadari cetakan yang tampak dan mulai dapat menemukan kata yang sudah dikenal.
4. Tahap Pengenalan Bacaan (Take-off Reader Stage)
Anak mulai menggunakan tiga sistem isyarat (graphoponic, semantic dan syntactic) secara bersama-sama. Anak mulai tertarik pada bacaan dan mulai membaca tanda-tanda yang ada di lingkungan seperti membaca kardus susu, pasta gigi dan lain-lain.
5. Tahap Membaca Lancar (Independent Reader Stage)
Anak dapat membaca berbagai jenis buku secara bebas.
Huruf dan kata-kata merupakan suatu yang abstrak bagi anak-anak, sehingga untuk mengenalkannya guru harus membuatnya menjadi nyata dengan mengasosiasikan pada hal-hal yang mudah diingat oleh anak. Pertama kali mengenalkan huruf biasanya guru memusatkan hanya pada huruf awal suatu kata yang sudah di kenal anak. Dan agar tidak ada kesan pemaksaan “belajar membaca” pada anak maka harus dilakukan dengan menyenangkan.

B. Menulis
Siapa pun sebetulnya berpotensi menjadi penulis. Buktinya, setiap orang bisa menulis diary-nya dengan lancar, runtut, baik, ekspresif, artikulatif. Ketika orang menulis diary-nya sendiri, ia dalam situasi psikologis yang bebas, tidak merasa sedang diancam oleh siapa pun. Ia memosisikan kegiatan penulisan diary-nya sebagai kegiatan ekspresi personal yang tak memerlukan penilai dan pemberi sanksi. Toh, sebuah diary tak akan dibaca orang. Karena itulah ia bisa menulis dengan baik. Tetapi ketika penulis diary itu mulai menulis artikel atau laporan yang akan dibaca orang, maka jadilah ia penulis yang tersendat-sendat, ekspresinya macet, sulit meruntutkan gagasan, artikulasinya terhambat, dan kerap kali gagal. Sebabnya, ketika menulis, mereka mereposisi sindiri menjadi individu yang terkerangkeng oleh hantu ancaman yang dibentuknya sendiri. Reposisi inilah yang keliru. Jadi, kuncinya adalah pada beban psikologis sebagai pemilik gagasan.
Dalam tradisi oral, orang akan merasa punya beban yang sedikit saja atau bahkan tidak punya sama sekali. Tapi ketika ia masuk ke tradisi literer, tradisi tulisan, beban itu bertambah bertumpuk-tumpuk. Ketika akan menuliskan gagasannya, setiap calon penulis seperti sedang menyusun sendiri bukti-bukti kuat yang bisa membuatnya diberi sanksi. Entah sanksi moral, sosial, hukum, atau politik. Maka ia pun gagap menulis karena beban itu.
Celakanya, institusi pendidikan kita, baik formal maupun informal, justru mengajarkan sikap dasar menulis yang keliru. Sekolah, misalnya, justru menjadi tempat yang menyeragamkan materi pikiran dan cara berpikir setiap calon penulis. Di samping itu, guru kerap kali bertindak secara sewenang-wenang sebagai penilai dan pemberi sanksi yang seolah-olah memiliki hierarki dan autoritas lebih tinggi ketimbang si penulis, murid mereka. Maka sejak awal, pelajaran mengarang di sekolah justru mematikan potensi-potensi kemunculan calon penulis besar di temapat kita. Wajarlah bila dari penduduk Indonesia yang berjumlah 240 juta jiwa lebih, sangat sedikit kemudian yang bisa menjadi penulis andal. Dan tentu saja, sangat sedikit buku yang dihasilkannya.
Hubungan guru-murid tadi sebetulnya merupkan replika dari sistem relasi sosial-politik yang ada di luar sekolah dalam kerangka yang lebih makro. Sentralisasi, penyeragaman, rezimentasi, represi dan praktik-praktik sejenisnya telah lama menjadi ciri pokok sistem sosial politik kita. Dalam konteks inilah kemudian orang dipaksa kehilangan indivualitasnya, jati dirinya, bahkan kemanusiaannya. Ini kemudian ikut memberikan sumbangan besar bagi kemacetan dan kemandekan luar biasa dalam dunia literer kita, dalam dunia penulisan kita. Kematian pontensi para penulis kita pun bisa diletakkan dalam carut-marut sistem yang sesat keliru semacam itu.

Menggelorakan Budaya Menulis
Nah, untuk menggelorakan budaya literer anak bangsa, Eep menguraikan tiga hal yang sangat penting bagi seorang penulis. Pertama, kemampuan teknis. Mau tidak mau, seorang penulis mesti terus menerus melatih kemampuannya menulis. Ini bukan untuk mencapai satu gaya akhir yang final dan permanen, melainkan untuk makin mengefektifkan penyampaian pesan yang disampaikannya lewat tulisan. Mereka yang cepat putus asa dan gampang menyerah kalah, berhenti berlatih menulis, pasti akan gagal menjadi penyampai pesan yang baik. Kemampuan teknis adalah faktor tertier yang mendampingi dua faktor lain yang bersifat sekunder dan primer.
Kedua, sistem sosial politik di sekitar kegiatan penulisan. Dalam sistem yang membebaskan, semua jenis tulisan akan bisa berkembang. Sementara dalam sistem yang mengekang, hanya tulisan yang berbau humor dan anekdot yang akan berkembang. Sistem inilah faktor sekunder itu. Ketiga, faktor primernya terletak pada kualitas kemanusian masing-masing calon penulis. Warga Negara yang memiliki tirani di kepalanya –yang membuatnya punya banyak hantu rekaannya sendiri, yang membuatnya takut, terkekang, dan tak bisa mengaktualisasikan kemanusiannya secara utuh- akan sulit menjadi penulis. Sebaliknya, warga Negara yang bisa membebaskan diri dari tirani semacam itu pasti akan mampu menuliskan apa yang ia pikirkan dengan baik.
Jadi, sekali pun sistemnya mengekang dan ia punya kemampuan menulis terbatas, seseorang akan tetap bisa melakukan kegiatan penulisan dengan baik manakala ia sudah berhasil membangun kualitas dirinya sebagai warga Negara dengan kemanusiaan yang utuh. Tentu saja, suasana penulisan yang terbaik akan bisa dicapai manakala kemampuan teknik yang tinggi bertemu dengan sistem yang membebaskan dan utuhnya kualitas kemanusiaan penulis.

C. Berhitung
Berhitung merupakan kemampuan yang digunakan dalam kehidupan kita sehari-hari, baik ketika membeli sesuatu, membayar rekening listrik, dan lain sebagainya. Tidak diragukan lagi bahwa berhitung merupakan pekerjaan yang kompleks yang di dalamnya melibatkan membaca, menulis, dan keterampilan bahasa lainnya. kemampuan untuk membedakan ukuran-ukuran dan kuantitas relatif dan obyektif. kemampuan untuk mengenali urutan, pola, dan kelompok. Ingatan jangka pendek untuk meningat elemen-elemen dari sebuah soal matematika saat mengerjakan persamaan. kemampuan membedakan ide-ide abstrak, seperti angka-angka negatif, atau system angka yang tidak menggunakan basis sepuluh.
 Meskipun banyak masalah yang mungkin turut mempengaruhi kemampuan untuk memahami, dan mencapai keberhaislan dalam pelajaran matematika. Istilah ‘dyscalculia’, biasanya mengacu pada pada suatu problem khusus dalam menghitung, atau melakukan operasi aritmatika, yaitu penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.
Anak yang mengalami problem dyscalculia merupakan anak yang memiliki masalah pada kemampuan menghitung. Anak tersebut tentunya belum tentu anak yang bodoh dalam hal yang lain, hanya saja ia mengalami masalah dengan kemampuan menghitungnya.
Disini guru berperan penting dalam proses pembelajaran dikelas untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar berhitung tersebut atau yang lebih dikenal dengan dyscalculia,dengaan cara menggunakan beberapa metode yang bisa meringankan kesulitan belajar siswa.
Namun pada kenyataan yang terjadi pada saat sekarang guru cenderung lebih mengajaarkan cara yang “lebih instan” dengan menggunakan alat penghitung berupa kalkulator, tanpa mengajarkan dasar dari cara berhitung itu sendiri, Sehingga pola berpikir siswa dalam berhitung tidak berkembang. Seperti yang terjadi pada kasus Seorang anak yang bernama Andien (tujuh tahun, duduk di kelas 1) didapati mengalami masalah dengan mata pelajaran matematika. Nilai matematika yang Andien dapat selalu rendah, walaupun pada mata pelajaran lain, nilainya baik. Lalu seorang guru memanggilnya, dan memberinya lembar kertas dan pensil dan memintanya menyelesaikan soal berikut : di dalam bus ada 12 penumpang,diperjalanan naik 3 orang penumpang. Ada berapa penumpang dalaam bus sekarang? Ia berusaha keras menemukan jawabannya tetapi tetap tidak bisa. Ketika guru bertanya bagaimana cara menyelesaikan, ia menjawab, ia harus menjumlahkan 12 dengan 3, akan tetapi ia tidak dapat menghitungnya. Kemudian guru memberinya kalkulator, dan kemudian ia dapat menghitungnya. Inilah gambaran seorang anak yang mengalami problem “dyscalculia”

Sumber: Educyber SD Peterongan

Download contoh soal TKD

Setelah mencoba browsing, saya menemukan dua contoh soal TKD yang menurut saya bisa dijadikan referensi.
Pertama, dari blog anak3a, silahkan download DI SINI.

Kedua, dari blog jubah-sorban, yang merupakan soal TKD tahun pelajaran 2012/2013, silahkan download langsung melalui salah satu link berikut:
Klik DI SINI (via 4share), klik DI SINI (via mediafire), atau klik DI SINI (via box).

(Keterangan: setelah muncul jendela adf, jangan lupa, klik tombol SKIP ADD di pojok kanan atas untuk menuju link download)

Semoga bermanfaat. 

Artikel Terkait



  • Digg
  • Delicious
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • 3 komentar:

    Yudistira jaya permana mengatakan...

    Mantap!! blognya keren pak

    RISQI ILMU mengatakan...

    bagus menginspirasi

    medy harto mengatakan...

    mas TKD untuk anak SLTP ada ndak

    Poskan Komentar

    Terima kasih atas komentar Anda. Silahkan kunjungi blog saya secara berkala

    Next previous home