ASMARA RAMADHAN: KEMANA KAU BERLABUH?

Saat masih mungil dan lucu-lucunya, dulu, saya mengikuti kebiasaan di lingkungan saya: jalan-jalan Bakda Subuh di pagi Ramadhan. Bila siangnya mesti berangkat sekolah, jarak tempuh sekitar 1-2 kilometer. Bila libur sekolah, jaraknya bisa membengkak menjadi 5-10 kilometer. Beranjak remaja, lingkungan mengajari saya bahwa kualitas kegiatan itu tidak ditentukan oleh panjang jalan yang saya lalui, namun berapa cewek-cewek cantik yang bisa saya temui. Kelak, ketika umur saya bertambah, saya baru tahu bahwa jalan-jalan Bakda Subuh itu memiliki nama lain: Asmara Subuh.

Entah bagaimana awalnya, saya kurang tahu pasti. Yang saya ingat, waktu itu, kadang memang ada yang berjalan beriringan laki-laki dan perempuan. Apakah itu kemudian dikonotasikan sebagai bibit-bibit, atau bahkan, buah asmara? Mungkin juga.

Menjelang akhir Ramadhan, biasanya peserta jalan-jalan Bakda Subuh itu meningkat jumlahnya seiring para pemudik yang telah tiba di kampung halaman secara bergelombang. Secara sederhana, biasanya juga diiringi dengan perubahan komposisi: jumlah anak muda yang ikut semakin banyak sedangkan orang tua semakin menyusut jumlahnya. Mungkin karena mulai fokus dengan kegiatan ibadah di hari-hari akhir Ramadhan, atau mungkin juga karena telah menemukan si-Asmara yang dituju.

Asmara Ramadhan

Bila kemudian nama Asmara Subuh melegenda, tidak demikian halnya dengan asmara-asmara lainnya. Apakah ada? Menurut saya, ada. Dan jumlahnya bukan hanya satu atau dua,  tetapi lima. Lima? Ya, lima, yaitu Asmara Dzuhur, Asyar, Magrib, Isya, dan Subuh sendiri. Juga Dzuha. Juga Tahajud.

Asmara yang diawali dengan panggilan mesra dalam lantunan Azan: hayya 'alas salat, yang berarti mari kita laksanakan salat, adalah momentum istimewa bagi kita untuk menundukkan wajah dan hati kepada Sang Maha Pencipta. Meletakkan kepala kita sejajar dengan kaki, adalah wujud kepasrahan seorang hamba. Juga bukti cinta. Kita bergumul dengan-Nya dalam lantunan gerakan dan doa, dan larut di dalamnya. Bahkan saat pagi hari dalam Salat Dhuha dan kala sepertiga malam terakhir dalam Salat Tahajud.

Ramadhan, saat dimana semua amalan dijanjikan dengan limpahan pahala, menjadi bulan latihan bagi kita. Saat Salat Isya yang kemudian dirangkai dengan Salat Tarawih menjadi begitu menggebu-gebu kita laksanakan karena banyak banyak saudara kita seiman yang mengharapkan pahala yang sama, dan memenuhi setiap jengkal masjid. Juga salat-salat lainnya. Kelak, setelah Ramadhan pergi, masihkah kita memiliki semangat yang sama, saat tak ada lagi kerumunan orang yang melaksanakannya? Masihkah Asmara Ramadhan itu memenuhi rongga dada dan hati kita agar terus menghangat dan membara pada 11 bulan berikutnya?

Masihkah kita rindukan kumandang azan Magrib kelak setelah Ramadhan berlalu? Rasanya belum pernah kita begitu merindukan azan kecuali pada Ramadhan saja. Azan Dzuhur kita tunggu karena sebagai penanda bahwa puasa kita sudah setengah jalan. Adzan Asyar kita nanti karena berarti tinggal seperempat lagi puasa kita hari itu. Dan puncaknya adalah Adzan Magrib. Dan Adzan Isya? Ia kita tunggu karena penanda masuknya ibadah salat sunnah yang hanya ada di bulan Ramadhan, yaitu Salat Tarawih. Juga sebagai awal waktu malam-malam Ramadhan yang penuh dengan kemuliaan dan pahala: Tadarus, Tahajud, Tasbih, dan banyak lagi lainnya. Plus bonus luar biasa, dan lagi-lagi hanya ada di Bulan Ramadhan: Malam Laitul Qadar. Adzan Subuh, yang sebelumnya diawali dengan tanda Imsak, kita tunggu sebagai awal mulainya hari baru.

Adakah semuanya tak menggelorakan hati? Adakah bulan lain yang memiliki semua itu? Tidakkah getaran-getaran Asmara Ramadhan itu penuh dengan percik dan kobaran yang mampu membuat kita senantiasa menjalani hari demi hari Ramadhan dengan kekuatan yang luar biasa, dengan mengabaikan lapar, dahaga, dan aneka godaan lainnya?

Dan sesaat lagi, Ramadhan kan pergi.

Asmara Ramadhan: kemana kau berlabuh? Di pintu Syawal kah, saat semuanya bermuara? Atau di pintu hari-hari kita?

Biarlah batas usia kita tetap menjadi rahasia Allah. Biarlah banyak hal lainnya tetap menjadi misteri yang hanya DIA yang tahu. Namun, di hari ke-29 Ramadhan ini, saya mengajak Saudara-saudaraku semua, untuk mengikrarkan niat, yang semoga bisa dicatat sebagai sebuah harapan, agar kita bisa membawa Asmara Ramadhan itu ke hari-hari berikutnya, pada rentang waktu 11 bulan berikutnya. Dengan sebuah harapan agar Allah Yang Maha Pengasih mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan tahun-tahun berikutnya.

Dan biarlah gejolak asmara itu memenuhi seluruh urat syaraf dan darah kita, setiap waktu, setiap saat, setiap hari. Agar selalu kita rindukan panggilan Azan sebagai saat terindah untuk bertemu dengan-Nya.

Amin.

Artikel Terkait



  • Digg
  • Delicious
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • 0 komentar:

    Poskan Komentar

    Terima kasih atas komentar Anda. Silahkan kunjungi blog saya secara berkala

    Next previous home