MENGENANG TIGA SETENGAH TAHUN JARINGAN INTERNET KABEL DI PANINGGARAN

Refleksi Akhir Tahun


Tiga setengah tahun silam, tepatnya 6 April 2010, kala sedang mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan Angkatan 53 di Wisma Nusantara Pekalongan, saya menulis sebuah artikel: Warnet: Babak Baru Paninggaran, dimana pada lima hari kemudian, artikel tersebut saya publikasikan di Blog Pramuka Paninggaran.

Tulisan tersebut menuturkan tentang rencana masuknya jaringan internet massal melalui warnet ke wilayah Kecamatan Paninggaran Kabupaten Pekalongan. Untuk saya, jelas hal tersebut merupakan kabar gembira karena itu berarti memotong jarak hampir 25 kilometer. Harap diketahui, warnet terdekat yang tersedia saat itu berada di Kajen, ibukota Kabupaten Pekalongan, yang berjarak sekitar 25 kilometer dari tempat tinggal saya. Itupun dengan kecepatan akses yang tidak bisa untuk ngebut. Bila menghendaki akses dengan kecepatan yang lebih tinggi, saya biasa menggunakan warnet di sekitar komplek kampus STAIN Pekalongan, sekitar 52 kilometer dari tempat tinggal saya. Artinya, saya mesti menempuh jarak pulang pergi sekitar 50 kilometer untuk bisa berinternetan dengan kecepatan sedang dan sekitar 104 kilometer untuk kecepatan di atasnya.


Hari ini, nyaris 44 bulan sesudah masuknya warnet pertama kali, saya ingin menyuguhkan kembali tulisan tersebut sebagai sebuah refleksi dan kilas balik akhir tahun 2013. Adakah yang berubah dengan Paninggaran?

Sesekali, saya pergi menyambangi warnet langganan saya. Untuk bernostalgia. Itu yang pertama. Yang kedua, kadang ada postingan blog ini yang memerlukan akses internet lebih tinggi daripada menggunakan modem di rumah. 

Hari ini, nyaris 44 bulan sesudah masuknya warnet pertama kali, saya ingin menyuguhkan kembali tulisan tersebut sebagai sebuah refleksi dan kilas balik akhir tahun 2013. Adakah yang berubah dengan penguasaan Teknologi Informasi dan Komunikasi alias TIK guru-guru Paninggaran?

Pada 15 Desember 2009, saya berkesempatan mengikuti final Lomba Guru Berprestasi melalui Penelitian Tindakan Kelas di Jakarta yang diselenggarakan oleh Departemen Agama (catatan kecilnya bisa dibaca DI SINI). Kesempatan tersebut, sebagian besar saya anggap keberuntungan, karena pengumumannya melalui internet sehingga saya merasa berpeluang untuk lolos seleksi. Hal tersebut saya yakini karena pada saat itu, internet masih barang mewah, khususnya untuk guru-guru "pejabat tinggi", seperti saya, yang berdomisili dan mengajar di sekolah kawasan pegunungan yang terletak di kisaran 1.200-an meter di atas permukaan laut (dpl).

Hari ini, nyaris 44 bulan sesudah masuknya warnet pertama kali, saya ingin menyuguhkan kembali tulisan tersebut sebagai sebuah refleksi dan kilas balik akhir tahun 2013. Semoga hari ini lebih daripada hari kemarin. Dan semoga tahun depan lebih baik daripada tahun ini. Amin.

*****



Berbatasan langsung dengan Kecamatan Kalibening Kabupaten Banjarnegara, geliat dan pertumbuhan perekonomian Kecamatan Paninggaran tidak sedinamis tetangganya tersebut. Pasar Kalibening yang lebih besar dan lebih ramai dibandingkan Pasar Paninggaran sehingga perputaran Rupiahnya dipastikan juga lebih besar, mungkin bisa dijadikan tolak ukur awal. Lainnya dapat diihat dari unit bisnis seperti fotokopi, bengkel variasi, studio foto digital, dan sejenisnya, yang berjumlah lebih banyak dan tampak lebih dinamis. Terakhir, kawasan pegunungan tersebut kembali membukukan skor 1-0 dengan hadirnya warung internet alias warnet di pusat keramaian, tak jauh dari Kantor Polsek dan BRI Unit Kalibening.

Lepas dari hal tersebut, banyak hal yang patut untuk disyukuri. Melalui tangan Pemkab Pekalongan, hadirnya jalan raya mulus beraspal hotmix beberapa tahun lalu seakan mengawali lembaran baru kecamatan paling Selatan dengan 15 desa tersebut. Kemudahan transportasi itu segera berimbas ke banyak sektor lainnya, khususnya lalu-lintas pengiriman hasil bumi dan aneka kerajinan dari home industry dan bertambahnya jumlah kendaraan bermotor. Sebagai salah satu sentra tanaman cengkih, manakala panen raya cengkih beberapa waktu lalu, sejarah baru tercipta ketika mobil-mobil pengangkut sepeda motor dari beberapa dealer motor terkemuka dari beberapa kota hilir mudik ke Paninggaran untuk menjemput langsung calon pembeli.

Hukum Alam

Tak lama berselang, datanglah barang baru berlabel jaringan listrik PLN, menggeser dominasi pasokan listrik dari pembangkit listrik bertenaga air, meskipun di beberapa wilayah, misalnya Dukuh Pejarakan Desa Domiyang, sampai sekarang masih setia dengan listrik kincir air.

Itulah hukum alam alias sunnatullah. Perkembangan zaman adalah sebuah keniscayaan, yang akan berpacu dengan waktu. Di satu sisi berpotensi meninggalkan, bahkan menenggelamkan produk-produk sebelumnya, dan di sisi lain, membuka peluang baru. Juga mewujudkan mimpi.

HP, misalnya. Pada kurun waktu 1995-1998, manakala saya hilir mudik Paninggaran-Kota Pekalongan untuk menuntut ilmu, HP adalah barang mewah. Hanya segelintir orang yang memilikinya dan tampak jelas mempertegas status sosial. Kini, tak sulit menemukan sarana komunikasi itu di sudut Gunungsurat, Silemud, Sijaha, Sikembang, dan pelosok Paninggaran lainnya. Aneka model HP dari berbagai merek mudah dijumpai dengan sebaran hampir merata sehingga tak mudah lagi mengidentifikasi status sosial pemiliknya.

Era HP pun sangat dinamis. Setelah gerai atawa konter HP menjamur, facebook alias FB yang sedang naik daun pun turut meramaikan pasaran dengan naiknya permintaan HP yang mendukung akses jejaring pertemanan tersebut. Meski akses internet untuk browsing tak sebanyak pengguna FB (hanya asumsi, bukan hasil penelitian ilmiah), menurut saya, pergeseran sekaligus penambahan akses tersebut hanya tinggal menunggu waktu setelah kabel serat optik milik Telkom tertanam di jalur utama Paninggaran.

Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber menyebutkan bahwa SPEEDY, di bawah bendera TELKOM yang menawarkan akses internet berkecepatan tinggi, sedang bersiap-siap untuk melebarkan sayapnya di Paninggaran. Meski mungkin masih terbatas pada pemilik telepon kabel (dan penawaran pasang baru pada jaringan yang memungkinkan), hal itu akan membuka sekat Paninggaran terhadap dunia baru: internet massal. Dan pintu itu bernama warung internet alias warnet.

Sampai tulisan ini diturunkan, setidaknya, telah ada satu pengusaha lokal dan satu pengusaha dari Kecamatan Kesesi yang berminat mencoba peruntungan di bisnis warnet. Dari narasumber yang dapat dipercaya, calon lokasi warnet sama-sama berada di ibukota kecamatan dimana yang satu ada di Paninggaran Barat sedangkan satunya di Paninggaran Timur.

Sikapi dengan Bijak

Hidup tak berjalan mundur, tutur Kahlil Gibran dalam sebuah puisinya. Begitu juga dengan dinamika Paninggaran. Setelah selama ini hanya bisa diakses oleh kalangan terbatas, termasuk pemilik HP yang fasilitasnya mendukung, internet (insya Allah) akan segera menjadi konsumsi masyarakat umum di Paninggaran setelah hadirnya warnet.

Pemberitaan tentang efek negatif internet, termasuk yang paling aktual adalah aneka kejahatan dengan memanfaatkan facebook, selayaknya bisa disikapi secara bijak. Sifat dasar teknologi adalah netral sehingga penggunaannya pun sangat dipengaruhi oleh persepsi dan tujuan pemakainya. Mungkin hampir sama seperti pisau yang bisa digunakan untuk memotong-motong tempe sekaligus bisa untuk mengupas buah mangga curian. Internet, yang menyediakan akses tak terbatas 24 jam sehari dan 7 hari seminggu, bisa dimanfaatkan oleh siapapun, tak terkecuali da’i (termasuk guru PAI) dalam upaya memperkaya referensi ilmu pengetahuan agama.

Manfaat positif internet itulah, menurut hemat saya, yang patut untuk dikedepankan daripada sekadar antipati. Yang pasti, karena sangat ditentukan oleh penggunanya, maka upaya untuk memberikan pemahaman yang memadai kepada penggunanya, khususnya generasi muda, lebih tepat untuk dilakukan daripada upaya-upaya agresif yang justru dapat menjadi bumerang. Sejarah panjang Paninggaran, setidaknya, memberikan pelajaran berharga untuk kita semua bahwa menempatkan generasi muda pada posisi (seolah-olah) serba salah, serba tidak tahu apa-apa, dan selalu dianggap biang kerok alias trouble maker; sedangkan generasi pendahulu berdiri pada posisi berseberangan dengan aneka aturan keras lengkap dengan beragam sanksi sosial dan serba benar namun teramat sakral untuk sekedar dikritik; hanya membuat jurang perbedaan itu semakin dalam, terjal, dan menganga lebar. Imbasnya, aneka program mulia, termasuk dakwah, nyaris semakin tak menjangkau mereka. Menurut saya, karakteristik generasi penerus ini lebih menyerupai bola: semakin dalam ditekan ke dalam air, semakin keras pula ia akan memberikan reaksi balik, dan akan semakin tinggi pula ia terlontar ke udara.

Dengan segala kekurangannya, generasi ini menyimpan potensi berlimpah. Ketepatan berkomunikasi disertai kesediaan untuk memberikan ruang berekspresi positif yang memadai, Insya Allah akan memupuk rasa tanggung jawab mereka terhadap diri dan masa depannya. Bagaimana pun, generasi inilah yang akan menjadi pemeran utama di masa mendatang. Tanpa upaya nyata, kegemilangan yang telah dicapai oleh generasi tua, betapa pun hebatnya, hanya akan menjadi prasasti tak bermakna tanpa adanya generasi muda yang siap siaga melanjutkan perjuangan. Juga untuk menceritakan kesuksesan ayah dan kakek-kakeknya kepada anak cucunya kelak.

Tulisan ini merupakan pendapat pribadi. Bukan mengatasnamakan organisasi, dan bukan pula bermaksud mewakili generasi muda manapun di bentangan wilayah Desa Tenogo sampai Desa Kaliboja. Tulisan ini, kalaupun boleh, hanya bermaksud untuk mengajak orang tua, guru, tokoh masyarakat, da’i, dan siapapun yang (merasa) peduli terhadap kualitas generasi muda khususnya dan kemajuan Kecamatan Paninggaran pada umumnya, untuk senantiasa memperbaharui semangat dalam merangkul dan berjalan sejajar dengan generasi muda Paninggaran tanpa harus kehilangan wibawa dan unggul dalam pengalaman.

Momen internet massal, yang menjadi muatan utama tulisan ini, sepatutnya bisa menjadi bahan perenungan berharga untuk kita semua bahwa generasi muda Paninggaran sangat mendambakan figur generasi tua yang bisa berperan sebagai kakak yang mengayomi, sahabat yang setia berbagi suka dan duka, guru dengan keluasan wawasan, dan pelaku dakwah yang sudi memberikan wejangan mencerahkan dengan arif, bijaksana, dan tidak menghakimi; dan bukan sebaliknya.

Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi langkah-langkah kita. Amin.


Wisma Nusantara Pekalongan
6 April 2010
21.45 WIB


*****

Artikel Terkait



  • Digg
  • Delicious
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • 0 komentar:

    Poskan Komentar

    Terima kasih atas komentar Anda. Silahkan kunjungi blog saya secara berkala

    Next previous home